Nasib tragis menimpa Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang, Jawa Tengah. Setelah dilaporkan hilang selama 19 hari di Gunung Slamet, Syafiq akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026). Penemuan tersebut mengakhiri rangkaian pencarian panjang yang melibatkan tim SAR dan relawan dari berbagai daerah.
Syafiq diketahui mendaki Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Kabupaten Pemalang, gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut yang dikenal memiliki medan berat dan cuaca ekstrem.
Awal Pendakian Bersama Rekan
Kronologi bermula pada Sabtu (27/12/2025) malam. Syafiq Ali tiba di Basecamp Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, sekitar pukul 23.00 WIB bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran. Keduanya tercatat sebagai pendaki tektok atau pendakian naik-turun dalam satu hari.
Syafiq merupakan siswa kelas XII SMAN 5 Magelang. Setelah melakukan registrasi pendakian, keduanya berencana kembali ke basecamp pada Minggu (28/12/2025) sore.
Hingga Minggu malam sekitar pukul 21.00 WIB, Syafiq dan Himawan belum kembali ke basecamp. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pengelola jalur pendakian yang kemudian melakukan pengecekan awal dan berkoordinasi dengan pihak terkait.
Laporan orang hilang selanjutnya diteruskan kepada tim SAR gabungan untuk dilakukan upaya pencarian dan pertolongan di kawasan Gunung Slamet.
Terpisah Saat Turun Gunung
Titik terang muncul pada Senin (29/12/2025) sekitar pukul 09.00 WIB. Himawan ditemukan oleh pendaki lain di sekitar Pos 9 jalur Dipajaya dalam kondisi lemas akibat kram pada kaki. Ia kemudian dievakuasi oleh petugas.
Saat ditemukan, Himawan sendirian. Berdasarkan keterangannya, ia dan Syafiq sempat terpisah saat perjalanan turun gunung. Ketika kakinya mengalami cedera dan tidak mampu melanjutkan perjalanan, Syafiq memutuskan turun lebih dulu untuk mencari bantuan.
Sebelum benar-benar hilang, dua orang saksi mata mengaku sempat melihat Syafiq di sekitar Pos 3. Kedua pendaki tersebut sempat mengikuti langkah Syafiq, namun korban tiba-tiba menghilang dari pandangan. Jalur yang diambil Syafiq diduga bukan jalur resmi pendakian.
Operasi SAR dan Penghentian Sementara
Setelah laporan kehilangan diterima, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta relawan langsung melakukan pencarian intensif. Penyisiran dilakukan di sejumlah titik yang diperkirakan menjadi lintasan korban, termasuk jalur resmi dan area sekitar punggungan.
Namun setelah berlangsung lebih dari sepekan tanpa hasil, operasi SAR resmi dihentikan pada Rabu (7/1/2026) dan dialihkan ke tahap pemantauan. Penghentian operasi dilakukan dengan persetujuan pihak keluarga.
Pencarian Mandiri Relawan Berlanjut
Meski operasi SAR resmi dihentikan, pencarian tidak sepenuhnya berhenti. Relawan dari berbagai basecamp di sekitar Gunung Slamet tetap melanjutkan pencarian secara mandiri. Penyisiran dilakukan melalui jalur Bambangan Purbalingga dan diperluas hingga jalur Baturraden, Banyumas, berdasarkan pemetaan serta pengalaman lapangan.
Pencarian mandiri tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan histori pendaki yang kerap tersesat ke jalur Baturraden akibat medan yang menipu dan kondisi cuaca yang cepat berubah.
Kabar duka datang pada Rabu (14/1/2026). Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di lereng puncak sebelah selatan Gunung Slamet, tepatnya di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden. Informasi penemuan pertama kali disampaikan melalui akun resmi Basecamp Bambangan Purbalingga.
Penemuan tersebut merupakan hasil pencarian tahap kedua yang telah berlangsung selama dua hari. Lokasi penemuan berada di jalur punggungan yang dikenal memiliki kontur terjal dan sulit dijangkau.
Evakuasi Berlangsung Belasan Jam
Setelah ditemukan, tim SAR gabungan langsung melakukan proses evakuasi jenazah. Medan ekstrem dan jarak tempuh yang jauh membuat evakuasi diperkirakan memakan waktu sekitar 15 jam hingga jenazah berhasil diturunkan ke Basecamp Dipajaya.
Setibanya di basecamp, jenazah dibawa ke RSUD Pemalang untuk proses pemulasaraan sebelum dipulangkan ke rumah duka di Kota Magelang.
Dengan ditemukannya Syafiq Ali, pencarian yang berlangsung selama 19 hari resmi dinyatakan berakhir. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan fisik, perencanaan matang, serta kepatuhan terhadap jalur resmi dan prosedur keselamatan dalam setiap aktivitas pendakian gunung.
Butuh 15 Jam Evakuasi, Jenazah Pendaki Syafiq Ali Diturunkan dari Gunung Slamet.
Proses evakuasi jenazah pendaki Gunung Slamet, Syafiq Ridhan Ali Razan (18), memakan waktu panjang akibat beratnya medan dan jarak tempuh dari lokasi penemuan. Tim SAR gabungan memperkirakan evakuasi membutuhkan sekitar 15 jam sejak jenazah diturunkan dari kawasan puncak hingga mencapai Basecamp Dipajaya, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Informasi ditemukannya Syafiq Ali dalam kondisi meninggal dunia diterima pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 10.30 WIB dari relawan mandiri yang berada di area puncak Gunung Slamet.
Ditemukan di Lereng Gunung Malang
Syafiq Ali ditemukan sekitar pukul 10.22 WIB di jalur punggungan Gunung Malang, tepatnya di sekitar area Batu Watu Langgar. Lokasi tersebut dikenal memiliki kontur terjal dan jalur sempit, sehingga menyulitkan proses evakuasi.
Kepala Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Sutrisno, menyampaikan bahwa penemuan korban merupakan hasil pencarian pendaki hari ke-17 yang dilakukan oleh tim SAR tahap kedua. Tim tersebut baru dua hari melakukan penyisiran sebelum akhirnya menemukan korban di lokasi tersebut.
Proses Evakuasi Berlangsung Hingga Malam
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo, mengatakan bahwa proses penurunan jenazah membutuhkan waktu lama karena kondisi medan Gunung Slamet yang ekstrem serta cuaca yang cepat berubah.
Menurut Catur, berdasarkan laporan terakhir yang diterima sekitar pukul 14.00 WIB, evakuasi jenazah dari lokasi penemuan menuju Basecamp Dipajaya diperkirakan memakan waktu kurang lebih 15 jam. Proses tersebut dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan seluruh personel SAR gabungan.
Setelah berhasil dievakuasi hingga Basecamp Dipajaya, jenazah Syafiq Ali rencananya akan langsung dibawa ke RSUD Pemalang untuk dilakukan proses pemulasaraan. Usai disucikan, jenazah akan dipulangkan ke Kota Magelang dan diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka.
Pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pemalang untuk memastikan seluruh proses evakuasi dan pemulangan jenazah berjalan lancar.
Pencarian Berlangsung Selama 17 Hari
Syafiq Ali dilaporkan hilang sejak akhir Desember 2025 saat mendaki Gunung Slamet bersama rekannya melalui jalur Dipajaya, Pemalang. Setelah rekannya ditemukan lebih dulu dalam kondisi selamat, tim SAR gabungan melakukan pencarian intensif selama 17 hari.
Pencarian sempat dihentikan dalam operasi SAR resmi, namun kemudian dilanjutkan melalui pencarian tahap kedua dengan melibatkan relawan dari berbagai unsur. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya Syafiq Ali di jalur punggungan Gunung Malang.
Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian dinyatakan selesai dan difokuskan pada proses evakuasi sesuai prosedur yang berlaku. Pihak terkait kembali mengimbau para pendaki untuk selalu mematuhi standar keselamatan, memperhatikan kondisi cuaca, serta melakukan pendakian melalui jalur resmi guna menghindari risiko kecelakaan di kawasan Gunung Slamet.
Pendaki Gunung Slamet, Syafiq Ali (18), yang sebelumnya dilaporkan hilang, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Korban ditemukan pada Rabu (14/1/2026) di lereng puncak sebelah selatan Gunung Slamet, tepatnya di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden.
Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun resmi Basecamp Bambangan Purbalingga, @slametviabambangan. Dalam keterangan yang dibagikan, relawan memastikan identitas korban sebagai Syafiq Ridhan Ali Razan dan menyebutkan bahwa proses evakuasi masih berlangsung saat korban ditemukan.
Ditemukan di Antara Jalur Gunung Malang dan Baturraden
Syafiq Ali ditemukan di area lereng puncak yang dikenal memiliki kontur terjal dan vegetasi rapat. Lokasi tersebut berada di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden, kawasan yang kerap menjadi jalur keluar pendaki yang tersesat akibat kondisi medan dan cuaca yang berubah cepat.
Hingga Rabu siang, relawan gabungan masih melakukan evakuasi jenazah dengan peralatan terbatas. Proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan faktor keselamatan personel, mengingat angin kencang dan kabut tebal sering muncul di kawasan puncak Gunung Slamet pada siang hingga sore hari. (*)







