Bandung Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Nilam dan Sacha Inchi, Indonesia-Korea Teken Kerja Sama Strategis

Kab.Bandung (SJB) – Upaya mendorong ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah dan limbah terus diperkuat di Jawa Barat. Melalui seminar hybrid bertajuk “Ekonomi Sirkuler Sampah dan Limbah: Tumbuhkan Nilam dan Sacha Inchi – Sumber Aroma, Superfood dan Nutrisi untuk Dunia”, berbagai pihak dari Indonesia dan Korea Selatan membahas potensi hilirisasi komoditas bernilai tinggi berbasis lingkungan.

Kegiatan yang digelar pada 21 Mei 2026 di Jalan Raya Banjaran KM 13, Kabupaten Bandung tersebut menghadirkan akademisi, pelaku industri, hingga investor internasional untuk membahas pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Seminar diselenggarakan oleh BPP Asosiasi Konsultan Non Konstruksi Indonesia (ASKKINDO) bersama GMSA Republic of Korea, serta didukung sejumlah mitra industri dan komunitas pengembangan ekonomi hijau.

Chairman GMSA sekaligus CEO Dream Corporation Korea Selatan, Mrs. Jung Mi Chang, menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan nilam dan sacha inchi untuk kebutuhan pasar global. Menurutnya, komoditas tersebut memiliki nilai komersial tinggi apabila didukung standar mutu dan kolaborasi internasional yang kuat.

Sementara itu, praktisi pengelolaan limbah sekaligus Ketua KDMP Langonsari, Ir. Sonson Garsoni, menjelaskan bahwa sampah organik maupun anorganik dapat diolah menjadi biochar, pupuk nano, kompos, hingga arang briket yang mendukung budidaya tanaman atsiri seperti nilam.
Dari sisi akademik, peneliti Farmasi Universitas Padjadjaran, Gofarana Wilar, menyebut pemanfaatan limbah pertanian mampu mengurangi beban lingkungan sekaligus menjadi bahan baku berkualitas bagi industri farmasi dan minyak atsiri.

Selain seminar, agenda utama kegiatan ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara GMSA Korea Selatan dan ASKKINDO Indonesia di Bandung. Kesepakatan tersebut menjadi langkah awal kerja sama pengembangan komoditas kosmetik, parfum, serta pangan sehat berbasis sumber daya lokal Indonesia.

Kerja sama mencakup riset bersama, promosi pasar internasional, peningkatan investasi bilateral, hingga pelatihan dan penguatan kapasitas pelaku usaha. MoU berlaku selama dua tahun dan bersifat non-eksklusif.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penguatan ekonomi hijau di Jawa Barat sekaligus membuka peluang ekspor baru bagi produk unggulan berbasis lingkungan dan pertanian berkelanjutan.

(Tovan Anggara)

Exit mobile version