seputarjabar.com
Senin, 17 Agustus 2026
Ketua Umum Paguyuban Budaya Sunda Galuh, H. Gangan, turut menghadiri kegiatan Pagelaran Seni Budaya Nusantara yang digelar Paguyuban Cepot Motah Indonesia dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9 Paguyuban Cepot Motah, Minggu, 16 Agustus 2026, di kawasan Jalan Naripan, Kota Bandung.
Ketua Umum Paguyuban Cepot Motah Indonesia (PCMI), Tomy Subagja (Pangeran Astrajingga), memimpin perayaan Milangkala ke-9 paguyuban tersebut yang disemarakkan dengan acara Gebyar Budaya Nusantara di Kota Bandung pada hari Minggu lalu.
Acara Hari Jadi Perayaan HUT ke-9 digelar di Gedung Kesenian Jawa Barat. Dihadiri oleh Wakil Wali Kota Bandung, Ketua Umum BBC Komunitas H. Bagus Machdiantoro, serta berbagai tokoh budaya dan ormas. Dengan menampilkan ragam seni seperti penca silat, debus, angklung, hingga jaipongan.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para pegiat seni dan budaya untuk mempererat silaturahmi sekaligus menghidupkan kembali berbagai kesenian dan tradisi Nusantara, khususnya budaya Sunda di Tatar Pasundan.
Mengusung semangat “Rempug Jukung Sauyunan Digawé Babarengan”, pagelaran tersebut menghadirkan nuansa budaya yang kental dengan berbagai seni tradisi dan pertunjukan budaya. Dari tampilan panggung terlihat identitas Paguyuban Cepot Motah yang mengangkat karakter Cepot serta berbagai unsur seni budaya Nusantara.
H. Gangan mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, acara seperti ini menjadi ruang yang sangat penting bagi para ketua umum paguyuban dan komunitas budaya untuk terus menjalin komunikasi, kebersamaan, serta memperkuat kecintaan terhadap budaya Sunda.
“Dina acara kasundaan, hususna anu di Jawa Barat, urang tiasa riung mungpulung, silaturahmi sareng para ketua umum di sakuliah Jawa Barat, di Tatar Pasundan. Lamun lain urang, rék ku saha deui budaya Sunda dimumule?” ujar H. Gangan.
Ia menilai pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun seniman, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, terutama generasi muda.
“Intina, lamun lain ku urang Sunda, rék ku saha deui budaya Sunda dihirupkeun deui,” katanya.
Bincang-bincang dengan H. Gangan, didepan Gedung Budaya Jawa barat mengatakan bahwa kebersamaan antar paguyuban menjadi kekuatan tersendiri dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya Sunda. Karena itu, dirinya menyampaikan terima kasih kepada Paguyuban Cepot Motah yang telah menggelar kegiatan tersebut.
“Hatur nuhun kanggo acara ieu anu tiasa terselenggara kalayan saé. Hatur nuhun ogé parantos tiasa silaturahmi sareng para ketua umum paguyuban, hususna anu aya di tanah Pasundan,” tuturnya.

Paguyuban Sunda Galuh Siapkan Ruwatan Lembur
Dalam kesempatan tersebut, H. Gangan juga menyampaikan rencana kegiatan Ruwatan Lembur yang akan dilaksanakan Paguyuban Budaya Sunda Galuh pada bulan November 2026 mendatang.
Ruwatan Lembur tersebut direncanakan berlangsung di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi Sunda dan memperkuat kebersamaan masyarakat melalui kegiatan hajat lembur.
“Insyaallah nanti di bulan 11 urang ngalaksanakeun Ruwatan Lembur di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Urang bade hajat lembur,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut juga akan menjadi bagian dari rangkaian peringatan 10 tahun Paguyuban Budaya Sunda Galuh. Saat ini, Paguyuban Budaya Sunda Galuh memiliki sekitar 500 anggota yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat.
H. Gangan berharap momentum satu dekade Paguyuban Budaya Sunda Galuh dapat semakin memperkuat kekompakan seluruh anggota dan meningkatkan kontribusi dalam pelestarian budaya.
“Sepuluh tahun Paguyuban Budaya Sunda Galuh mudah-mudahan janten momentum pikeun urang sadaya langkung guyub, langkung kompak, sareng teras ngamumule budaya Sunda,” katanya.
Ia memaparkan, kegiatan budaya seperti pagelaran seni, silaturahmi antar paguyuban hingga ruwatan lembur merupakan bagian dari upaya menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal dan dicintai generasi berikutnya.
“Budaya Sunda kedah terus hirup. Lamun urang teu ngamumule budaya sorangan, saha deui anu bakal ngajagana?” pungkas H. Gangan.
Kehadiran H. Gangan dalam HUT ke-9 Paguyuban Cepot Motah sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan silaturahmi antarpaguyuban budaya di Jawa Barat. Semangat guyub, sauyunan dan gotong royong diharapkan terus menjadi kekuatan dalam menjaga eksistensi budaya Sunda dan budaya Nusantara.
Reportase: ywinds









