Sabtu, 7 November 2026
Semangat menjaga persaudaraan dan melestarikan nilai-nilai budaya Sunda mengemuka dalam pertemuan silaturahmi bersama sejumlah tokoh dan sesepuh Jawa Barat di Gedung Kebudayaan Jawa Barat.
Suasana keakraban mewarnai pertemuan tersebut. Kehadiran para tokoh dari berbagai kalangan menjadi ruang untuk menyambung komunikasi, bertukar pandangan, sekaligus memperkuat hubungan kekeluargaan yang telah terjalin.
Dalam kesempatan itu, salah seorang tokoh Paguyuban Asep Dunia (PAD) H. Asep Ruslan atau yang akrab disapa Kang Asep, selaku Ketua Panitia Pengarah (SC) KAA ke-7 Paguyuban Asep Dunia (PAD) saat berkumpul dengan sejumlah tokoh dan sesepuh Jawa Barat di Gedung Pusat Kebudayaan Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026).
Dalam penyampaiannya, ia mengungkapkan bahwa dirinya dibesarkan di lingkungan masyarakat Sunda, tepatnya di Kampung Sumur, Desa Sukasono, Kecamatan Sukaweuning, Kabupaten Garut, yang lekat dengan kehidupan dan tradisi masyarakat Sunda.
“Saya bangga menjadi bagian dari masyarakat Sunda. Persaudaraan dan silaturahmi harus terus kita jaga. Dengan kebersamaan, kita bisa saling mengenal, saling mendukung, dan memperkuat persatuan,” ungkap Ketua Umum DPP Paguyuban Asep Dunia Periode 2020-2025 dan Dewan Pembina DPP Paguyuban Asep Dunia (PAD) Periode 2025-2030.

Baginya, identitas Sunda bukan hanya tentang asal-usul, tetapi juga menyangkut nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Sikap someah, silih asah, silih asih, dan silih asuh merupakan karakter yang harus terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Kebahagiaan tersendiri juga dirasakannya karena dapat bertemu langsung dengan para tokoh senior Jawa Barat, termasuk mantan Kapolda Jawa Barat, Anton, serta sejumlah sesepuh dan tokoh lainnya.
Pertemuan lintas generasi tersebut dinilai memiliki arti penting. Selain mempererat hubungan personal, silaturahmi juga menjadi kesempatan untuk menjaga kesinambungan komunikasi dan membangun kebersamaan di tengah masyarakat.

“Sebagai orang Sunda, tentu saya merasa bangga. Kita memiliki budaya dan nilai persaudaraan yang sangat kuat. Ini yang harus terus kita rawat, jangan sampai terputus oleh perbedaan maupun perkembangan zaman,” tutur Asep Ruslan kepada Media Seputar Jabar.
Ia berharap ruang-ruang pertemuan seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat terus berlangsung dan memberikan dampak positif bagi penguatan persatuan masyarakat Jawa Barat.
Menurutnya, menjaga persaudaraan harus dimulai dari hal sederhana, yakni saling mengenal, menghargai, menjaga komunikasi, dan membuka ruang kebersamaan.
Semangat tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan masyarakat Sunda tidak hanya terletak pada kekayaan budayanya, tetapi juga pada eratnya persaudaraan dan kepedulian antarsesama.
Y Winda Seputar Jabar









